Langsung ke konten utama

CITA Tanpa CINTA 2

Sesampai aku dikos ku, aku membanting badanku dikasur dan menatap langit – langit kosku. Aku merenung kenapa aku bisa seperti ini hari ini. Hal yang sangat aneh yang aku munculkan selama aku berada dijogja. Sebelumnya aku belum pernah seperti ini, rasanya hari ini begitu berbeda dengan hari – hari sebelumnya yang ku jalani dengan ceria dan semangat.
Huuuuuuffffffftttttttttt. Capek dengan sikapku sendiri hari ini, akupun mulai menutup mata ku, siapa tahu setelah aku bangun aku akan kembali ceria dan semangat seperti biasanya. Dan akupun terlelap dalam tidurku.

Setelah beberapa saat terlelap dalam tidurku, tiba – tiba terdengar suara.

“Assalamualaikum… ano… ano…”
“suara siapa itu? Kenapa orang itu membangunkanku?” pikirku masih pusing dan masih menutup mata. Aku berusaha mengangkat kelopak mataku #loading sebentar. Dan berusaha mengangkat badanku dari kasur yang nyaman ini.

“siapa?” aku baru bersuara.
“Aku Ambar,,,,” jawabnya
“Ambar? Siapa Ambar itu?” aku hanya memikir “ iya tunggu sebentar” jawabku. Lalu aku membukakan pintu untuk Ambar itu. Setelah membuka sedikit pintu dan menyelipkan mataku disela-selanya. Ambar langsung mendorong kuat pintu kamarku dan bilang “cepatlah dan birakan aku masuk” cetusnya marah. Aku hamper sedikt terpental karenanya.
“hei kau ini kenapa? Marah – marah nggak jelas gini?” cetusku sedikit cemberut. Aku baru tersadar kalau Ambar ini adalah teman kosanku yang sering sekali mengusik kesenanganku saat tidur. Dia ini sering sekali membuat kamarku berantakan. Hehe tapi dia anak yang baik, karena dia sering membantu menyelasiakan dan membantu aku mencari tugas. Aku sama dia emang udah sedikit dekat. Cuman karena kami beda jurusan, kami jarang pergi bareng sehabis kuliah. Yah begitulah anak kos.
“kamu lagi tidur ya? Kamu ini nggak ada kerjaan lain kah selain tidur?” Tanyanya mengomeliku.
“malas” jawabku singkat. Dan berusaha menyingkirkan badan beasrnya dari kasurku, karena aku inin menyambung lagi tidurku.
Ambar bilang “ dasar pemalas ”.

Aku kalau lagi dikos emang dibilang pemalas oleh teman – teman kosku, karena kalau aku pulang kekos sehabis dari kegiatanku, aku hanya tidur dan berdiam diri dikamar jarang sekali aku bergabung dan mendengan ocehan mereka di kos ini dengan suara seperti orang yang histeris. Walau begitu aku kadang dipaksa untuk bergabung dengan mereka. Mereka kadang tidak mau tahu aku sibuk atau nggak, aku capek atau tidak. Mereka selalu memaksaku untuk ikut bergabung dengan ocehannya mereka itu. Walau akhirnya ikut juga mengoceh dengan mereka. Hehe

“kenapa kau hari in?” ambar memperhatikanku
“tidak apa – apa” jawabku.
“kau tidak seperti biasnya, walaupun kamu lagi tidur dan bilang malas kau tidak seprti ini biasaya, kenapa? Ada masalah? Masalah sama teman kampus? Masalah sama dosen? Atau masalah sama pacar?” ocehnya panjang
“tidak ada” jawabku singkat. Apa seaneh itu aku hari ini sampai Ambar pun menyadari kalau aku sedang tidak seprti biasanya?” pikirku

“hei kau ini kenapa? Ngana tidak suka melihat kau sperti ini?” mengoceh lagi dengan sedikit mengolok – olok aku. Dengan alis yang terangkat heran dia mamandangiku
“aku tidak mengerti dengan diriku hari ini mbar” jawabku mulai membuka cerita
“kok bisa?” suara ledekan dan heran
“nggak tau” jawabku lagi

“masalah itu pasti ada jalan keluarnya, jangan terlalu terpurk berlarut – larut dalam masalah. Pikirkan apa yang kamu ingin lakukan dan lakukan apa yang kamu pikirkan” ujarnya sok bijaksana

Aku memahami kalau dia berusaha membuat aku keluar dari masalahku, dan berusaha membantuku dengan kata – katanya yang bisa dibilang bijaksana ini. Dan aku juga mengerti apa yang dia maksud, memang benar juga yang dia katakan kalau aku tidak boleh terlarut – larut dalam maslahku. Tapi kenapa harus ada ujung kalimat yang dikatakannya sperti itu.

“yea” jawabku aku singkat
“yea? Apa?” tanyanya tambah heran. “aku ini sedang berusaha memberikanmu pencerahan, kenapa kau malah menjawab sesingkat itu? Kau ini tidak mengerti atau tidak mau mengerti maksudku?” tambahnya panjang
“aku ini sedang berpikir juga, masa aku harus menjawabnya dengan A sampai Z gitu?” cetusku
“owh ternyata kamu masih bisa berpikir juga pada keadaan yang genting kayak gini?” ujarnya sok selow.

Aku mengerutkan dahi, menaikan alis dan memandangnya penuh tanda Tanya dengan tanpa spatah katapun keluar dari mulutku. “keadaan genting apa yang dia maksud? Emang ini sedang berkeadaan apa sih?” pikirku aneh tanpa mengeluarkan suara
“hei kenapa kau mamandang aku sperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?” ujarnya membela diri seakan tidak ada keanehan dalam kata – katanya
“genting??????????” kataku penuh tanda Tanya
“hahahahahahahahaha…… owh jadi karena kata genting kamu memandangiku aneh seprti itu??!!” katanya dengan tenang. “ini itu emang keadaan genting, kalau kamu aneh kayak gini sudah masuk zona waspada tahu” tambahnya
“kenapa begitu?” tanyaku tambah heran
“dasar bodoh, orang akan menganggapmu orang teraneh didunia, dan akan mengasingkanmu karena sikapmu yang seperti in. orang sudah terlalu nyaman dengan sikapmu yang sebelumnya. Jadi orang akan sangat tidak suka dengan sikapmu yang seperti hari ini. Aku harap besaok kau tidak seprti ini lagi.” Ujarnya menjelaskan

“lebay kamu nih…” tanggapku cepat
“ini bukan lebay no, tapi ini emang udah kenyataanya seperti itu, BODOH” teriaknya didepanku.
“iya nggak usah segitunya juga kaleeeeee….” Ujarku. Tak aku pungkiri emang temanku yang satu ini bahasanya seprti ini.

Sedikit alay dan lebay. Dan aku sudah terbiasa dengan kata – kata kasar dengan sedikit teriakan adri mulutnya, walau aku benci itu, tapi aku harus bisa memahami sifat temanku yang satu ini. Karena mungkin aku juga punya sifat buruk yang jauh lebih buruk dari itu. Dan aku selalu menyadari bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna.
“aku harus gimana sekarang mbar?” tanyaku melo
“sudah lupakan aja masalahmu itu, jalankan hari – harimu seperti biasanya. Nanti kamu pasti akan tahu apa jawaban dari masalahmu ini” ujarnya menenangkanku
Orang ini seprti udah mengerti apa yang aku rasakan, padahal dari tadi akau tidak meceritakan apa – apa tentang masalahku. Tapi walau begitu aku sedikit nyaman dengan kata – katany yang mulai bisa mencerahkan pikiranku. Dan aku hanya mengeluakan suara “hm gitu”.

“yah, sudahlah jangan kayak gitu terus. Nggak usah terlalu diambil pusing masalah itu. Ayok kita keluar!” ajaknya
“aku kayaknya lagi malas untuk keluar” ujarku
“nggak mau tahu dan nggak mau dengan pokoknya harus ikut” ujarnya maksa
“hm… kamu ini selalu memaksaku seperti ini, kapan kau berhenti memaksaku?” tanyaku sedikit kesal
“hehe,,,,” cekikiknya. “pokonya nggak mau tahu”. Dia langsung membongkar lemariku, menambil abjuku dan berkata “pakai yang ini” sambil menyodorkan baju batik berwarna cream dan coklat kepadaku.
“hum kamu ini” gumamku “aku mandi dululah” tambahku
“oh iya, kamukan belum mandi, ya udah mandi sana. Nggak pake lama!” serunya menyuruh
“iya iya, BAWEL” kataku. Aku langsung lompat dari tempat tidur dan mengambil handuk untuk menghindar dari omelannya selnjutnya.

bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penimbangan dan pembuatan larutan standar

Tujuan percobaan : 1) Teknik menimbang dengan neraca analitik 2) Membuat larutan standar HCl 0,1 N 3) Standarisasi larutan HCl dengan Boraks Dasar teori * Menimbang dengan neraca analitik Neraca analitik digunakan untuk membandingkan dua gaya yang praktis dapat dikatakan sejajar. Dua gaya yang sejajar tidak dapat diprbandingkan langsung, tetapi harus melalui perbandingan momen gaya yaitu dengan menghubungkan kedua gaya itu melalui dua lengan pengungkit (pengumpil) dengan titik pusat persekutuan. Pada jarak yang sama dari titik kedua ujung pengumpil terdapat titik kerja gaya berat yang bekarja terhadap kedua massa yang harus di perbandingkan. Sebuah massa yang tidak diketahui selalu dipersamakan dengan sejumlah anak timbangan tertentu. Kesamaan yang sempurna tidak pernah tercapai. Selalu terdapat sedikit selisih massa yang dapat dihitung dari sudut miring pengumpil. Neraca sama lengan merupakan instrumen amat peka, dan jarum penunjuk akan berayun cukup lama sebelum berhenti. ...

Sarjana Muda

Tanggal 22 oktober 2016 Senyum bahagia merengah di setiap bibir yang menghadirinya, yang punya acara maupun yang datang untuk mereamaikan acara. Teriakan demi teriakan di sampaikan oleh para pengunjung yang turut bahagia akan pencapaian kami, ya pencapaian kami yang telah menutup buku dengan menyematkan gelar di belakang nama. Iya, hari ini kami wisuda, hari bahagia kami ini adalah pintu gerbang kehidupan baru kami menyandang gelar sarjana muda. Kami bahagia dan mendeklarasikan diri kalau kami sudah bebas dari tugas tugas kutu buku, tugas tugas yang menghatui kami tiap malam, pagi, siang dan sore. Apalagi kalau mengingat perjuangan menyelesaiakan skripsweet membuat kami yang saat ini merasa benar benar bebas. Tak jauh pemikiran kami dari kata bebas, yang terus membuat kami bahagia, membuat kami terlena. Lambat laun kami mulai dihadapkan dengan kegelisahan karena belum lagi bertemu dengan kesibukan lain, yang biasa kami sibuk dengan tugas, kini kami hanya sibuk dengan sepi dan...