Langsung ke konten utama

HAKEKAT AKHLAK RASULULLAH


A.  PENGERTIAN DAN DASAR HUKUM
 a.        PENGERTIAN ILMU AKHLAK
Ada dua tipe ndekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistic (kebahasaan), dan pendekatan terminologik (peristilahan).
Secara etimologis akhlaq adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata akhlaknya yang berarti menciptakan seakan dengan kata khaliq (pencipta), makhaliq yang (diciptakan) dan khalq (penciptaan). Kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlak tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak khaliq (Tuhan).
Sifat ajaran akhlaq islam adalah universal, eternal dan absolute. Akhlak merupakan tujuan pokok didakwahkannya islam. Akhlak yang benar menurut islam adalah akhlak yang dilandasi iman yang benar. Dalam islam, ketiga ajaran pokok yaitu iman, islam dan ikhsan (akhlak), merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, yang tujuan intinya adalah menjadikan manusia muslim sebagai sumber kebijakan dalam masyarakat.1
Secara terminologis (ishthilabah) ada beberapa definisi tentang akhlaq :
1.      Imam Al-Ghazali
Imam Al – Ghazali dalam Ihya’nya yakni :
Khuluq yakni sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong lahirnya perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa pertimbangan dan pemikiran yang mendalam. (1994 : 46)2[1]
2.      Ibrahim Anis
                            
Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan.
3.      Abdul Karim Zaidan
Akhlaq adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang depan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk.
[2]4. Ibnu Miskawaih
Khuluk ialah keadaan gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan perbutan dengan tidak menghajatkan pemikiran. (1995 : 56)3
4.      Ahmad Amin
Khuluk ialah membiasakan kehendak. (Jatnika, t.t.:26)4
Kata akhlak adalah jamak dari kata khilqun atau khuluqun yang artinya sama dengan arti akhlak sebagaimana telah disebutkan diatas. Baik kata akhlaq atau khulqun kedua-duanya dijumpai pemakaiannya baik dalam al-quran maupun dalam hadist, sebagai berikut :
Dan sesungguhnya kamubenar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q.S.Al-Qalam, 68:4)
(Agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan yang dahulu (Q.S.Al-Asyura, 26:137)
Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang sempurna budipekertinya (H.R.Tirmidzi)
Dengan demikian merujuk kepada ayat diatas kata akhlak atau khuluq secara kebahasan berarti budi pekerti, adat kebisaan, atau perangai muru’ah atau segala sesuatu yang sudah menjadi tabiat.
Keseluruhan definisi akhlak tersebut diatas tampak tidak ada yang bertentangan, melainkan memiliki kemiripan. Definisi-definisi akhlak tersebut secara substansi saling tampak saling melengkapi, dan darinya kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu :
Pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya.
Kedua, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakuakan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Ini tidak berarti bahwa pada saat melakukan perbuatan, yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur atau gila. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang sehat akal pikirannya.
Ketiga, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.
Keempat, bahwa perbuatan akhlak adalah perbutaan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara.
Kelima, sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau karena ingin mendapatkan sesuatu pujian.
            Islam memiliki Dasar – Dasar Konseptual tentang akhlak yang komprehensif dan menjadi karakteristik yang khas. Diantara karakteristik tersebut adalah :
1.      Akhlak meliputi hal – hal yang bersifat umum dan terperinci.
Didalam Al – quran ada ajaran akhlak yang dijelaskan secara umum, tetapi ada juga yang diterangkan secara menditeil. Sebagai contoh, ayat yang menjelaskan masalah akhlak secara umum adalah Q.S. An Nahl (16):90 yang menyrukan perintah untuk berakhlak secara umum: untuk berbuat adil, berbuat kebaikan, melarang berbuat keji, mungkar, dan permusuhan. 5
Sedangkan contoh ayat yang menjelaskan masalah akhlak secara terperinci adalah Q.S. Al Huujurat (49):12 yang menunjekkan larangan untuk saling mencela, serta larangan memanggil dengan gelar yang buruk.
2.      Akhlak bersifat menyeluruh
Dalam konsep islam, akhlak meliputi seluruh kehidupan muslim, baik dalam beribadah secara khusus kepada Allah, maupun akhlak dalam hubungannya dengan sesame makhluk separti akhlak mengolah sumber daya alam, akhlak dalam menata ekonomi, akhlak dalam menata politik, akhlak dalam kehidupan bernegara, akhlak dalam kehidupan berkeluarga, dan bermasyarakat.
3.      Akhlak sebagai buah iman
Akhlak memiliki karakter dasar yang berkaitan erat dengan maslah keimanan. Jika iman dapat diibaratkan akar sebuah pohon, sedangkan ibadah merupakan batang, ranting dan daunnya, maka akhlak adalah buahnya. Iman yang kuat akan termanifestasikan oleh ibadah yang teratur dan membuahkan akhlakul karimah. Lemahnya iman dapat terdeteksi melalui indicator tidak tertibnya ibadah dan sulit membuahkan akhlakul karimah.
4.      Akhlak menjaga konsistensi cara dengan tujuan.
Islam tidak membenarkan cara-cara mencapai tujuan yang bertentangan dengan syariat sekalipun dengan maksud untuk mencapai tujuan yang baik. Hal tersebut dipandang bertentangan dengan prinsip – prinsip yang akhlakul karimah yang senantiasa menjaga konsistensi cara mencapai tujuan tertentu dengan tujuan itu sendiri. 6

B. DASAR
“sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah orang yang berakhlak sangat mulia” (Al Qolam (86):4)
Pujian Allah ini bersifat individual dan khusu hanya diberikan kepada Nabi Muhammad karena kemuliaan akhlaknya. Penggunaan istilah “khulukun ‘adhim” menunjukan keagungan dan keanggunan moralitas Rasul, yang dalam hal ini adalah Muhammad SAW. Banyak nabi dan rasul yang disebut dalam Al Quran, tetapi hany Muhammad SAW yang mendapat pujian sedahsyat itu.
[5]Dengan lebih tgas Allah pun memberikan penjelasan secara transparan bahwa akhlak Rasulullah sangat layak untuk dijadikan standar moral bagi umatnya, sehingga layak untuk dijadikan idola yang diteladani sebagai uswah hasnah, melalui firman – Nya:
[6]sungguh bagi kamu pada diri Rasulullah itu terdapat suri tauladan yang baik…” 7
Ayat tersebut memberikan penegasan bahwa Rasulullah merupakan contoh yang layak ditiru dalam segala sisi kehidupannya. Disamping itu, ayat tersebut juga mengisayaratkan bahwa tidak ada satu “sisi-gelap” pun yang ada pada diri Rasulullah, karena semua isi kehidupannya dapat ditiru dan diteladani. Ayat diatas juga mengisyaratkan bahwa Rasulullah sengaja diproyeksikan oleh Allah untuk menjadi “lokomotif” akhlak umat manusia secara universal, karena Rasulullah karena Rasulullah diutus sebgai rahmatan lilalamin. Apalagi beliau pernah besabda :
“sesungguhnya saya diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
“substansi akhlak Rasulullah itu adalah Al Quran “  8
 
C. RUANG LINGKUP AKHLAK
Ilmu akhlak adalah membahas tentang perbuatan – perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Ilmu akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Akhlak sebagai suatu disiplin ilmu agama sudah sejajar dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti tafsir, tauhid, fiqh, sejarah islam, dll.
Muhammad Abdullah dias dalam bukunya dhuztur al ahlak fial-Islam membagi ruang lingkup akhlak menjadi lima bagian.
1.      Akhlak beragam yaitu kewajiban terhadap Allah SWT
a.        Yang diperintahkan;
b.       Yang dilarang;
c.       [7]Yang dibolehkan. 9
2.      Akhlak dalam keluarga (al-Fardiyah) terdiri dari :
a.       Akhlak terhadap orang tua;
b.      Akhlak terhadap suami;
c.       Akhlak terhadap istri;
d.      Akhlak terhadap anak;
e.       kewajiban terhadap kerabat.
3.      Akhlak bermasyarakat terdiri dari : 
a.       Akhlak terhadap tetangga;
b.      Akhlak terhadap tamu;
c.       keadaan-keadaan adab.
4.      Akhlak bernegara terdiri dari :
a.       Berhubung antara pemimpin dan rakyat;
b.      Hubungan luar negeri;
c.       Akhlak sosial;
d.      Akhlak politik;
e.       Akhlak jabatan.
5.      Akhlak terhadap makhluk lain, seperti :
a.       Akhlak terhadap binatang;
b.      Akhlak terhadap tumbuh – tumbuhan;
c.       Akhlak terhadap alam sekitar.
6.      Akhlak pribadi. 10
Pokok-pokok masalah yang dibahas dalam ilmu akhlak pada intinya adalah perbuatan manusia. Perbuatan tersebut selanjutnya ditentukan kriterianya apakah baik atau buruk. Dalam hubungan ini Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut :
Bahwa objek ilmu akhlak adalah membahas perbuatan manusia yang selanjutnya perbuatan tersebut ditentukan baik atau buruk.
Kemudian menurut Muhammad Al-Ghazali akhlak menurutnya bahwa kawasan pembahsaan ilmu akhlak adalah seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebgai individu maupun kelompok. Dalam masyarakat Barat kata akhlak sering diidentikkan dengan etika, walaupun pengidentikkannya ini tidak sepenuhnya tepat. Mereka yang mengidentikkan antar aakhlak dengan etika mengatakan bahwa etika adalah penyelidikan tentang tingkah laku dan sifat manusia.
Namun perlu ditegaskan kembali bahwa yang dijadikan objek kajian Ilmu Akhlak disini adalah perbuatan akhlak yang memiliki ciri-ciri dilakukan atas kehendak dan kemauan, sebenarnya mendarah daging dan telah dilakukan secara kontinue atau terus-menerus dalam kehidupannya.
Dapat disimpulkan yang dimaksud dengan ilmu akhlak adalah ilmu yang mengkaji suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia dalam keadaan sadar, kemauan sendiri, tidak terpaksa, dan sungguh-sungguh, bukan perbuatan yang pura-pura.
Bahkan ada salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Hurairah r.a dinyatakan:
“Orang – orang mukmin yang paling sempurna imannya adalag yang paling baik budipekertinya.”11
Dalam hadis lain yang diriwayakan oleh at-Turmudzi dari Zabir r.a menyatakan :
“Sungguh diantara yang paling aku cintai, dan yang paling dekat tempat duduknya dengan aku kelak dihari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara kamu.” 12
[8]Kesadaran berbuat baik merupakan manifestasi dari akhlak manusia itu sendiri yang diwujudkan dalam perilaku sehari – hari. Abdul Hamid Yunus berkata, “Akhlak adalah sifat – sifat manusia yang terdidik” (Abd. Hamid Yunus, Dairah al-Ma’arif, dalam Asmaran, 192:1)13

      D. AKHLAK RASULULLAH
Nabi dalam salah satu hadisnya mengatakan :
“yang baik adalah sesuatu, apabila dikerjakan, jiwa merasa tenang dan hatipun merasa tentram; yang dosa adalah sesuatu apabila dikerjakan, jiwa tidak merasa tenang dan hatipun tidak merasa tentram, meskipun orang member nasihat yang lain dari itu kepadamu.” (HR Ahmad dari Abu Tsa’labah).14
Diriwayatkan tentang Rasulullah saw bahwa segala tutur kata beliau senantiasa mencerminkan kesucian dan bahwa beliau (tidak seperti orang-orang kebanyakan di zaman beliau) tidak biasa bersumpah (Turmudzi). Hal itu merupakan suatu kekecualian bagi bangsa Arab. Kami tidak mengatakan bahwa orang-orang Arab di zaman Rasulullah saw biasa mempergunakan bahasa kotor, tetapi tidak pelak lagi bahwa mereka biasa memberikan warna tegas di atas tuturan mereka dengan melontarkan kata-kata sumpah dalam kadar yang cukup banyak, suatu kebiasaan yang masih tetap berlangsung sampai hari ini juga. Tetapi Rasulullah saw menjunjung tinggi nama Tuhan sehingga beliau tidak pernah mengucapkan tanpa alasan yang sepenuhnya dapat diterima.
Umat islam dalam kehidupan sehari – harinya hendak mencontoh perjalanan hidup nabi, sebagaimana dinyatakan dalam QS Al Ahzaab (33:21)
“sesungguhnya, Rasulullah adalah menjadi percontoh yang baik bagi kamu sekalian yang mengharapkan pahala Allah dan kebahagiaan hari akhir serta banyak ingat kepada Allah.“ 15
Beliau menuntut agar jalan-jalan dijaga kebersihannya dan tidak ada dahan ranting, batu dan semua benda atau sesuatu yang akan mengganggu atau bahkan membahayakan. Jika beliau sendiri menemukan hal atau benda demikian di jalan, beliau niscaya menyingkirkannya dan beliau sering bersabda bahwa orang yang membantu menjaga kebersihan jalan-jalan, ia telah berbuat amal sholih dalam pandangan Ilahi.
Akhlak Rasullullah saw Muhammad bin Abdullah
Rasulullah saw sangat sederhana dalam hal makan dan minum. Beliau tidak pernah memperlihatkan rasa kurang senang terhadap makanan yang tidak baik masakannya dan tidak sedap rasanya. Jika didapatkannya makanan sajian serupa itu, beliau akan menyantapnya untuk menjaga supaya pemasaknya tidak merasa kecewa. Tetapi, jika hidangan tidak dapat dimakan, beliau hanya tidak menyantapnya dan tidak pernah memperlihatkan kekesalannya. Jika beliau telah duduk menghadapi hidangan, beliau menunjukkan minat kepada makanan itu dan biasa mengatakan bahwa beliau tidak suka kepada sikap acuh-tak-acuh terhadap makanan, seolah-olah orang yang makan itu terlalu agung untuk memperhatikan hanya soal makanan dan minuman belaka.
Jika suatu makanan dihidangkan kepada beliau, senantiasa beliau menyantapnya bersama-sama semua yang hadir. Sekali peristiwa seseorang mempersembahkan kurma kepada beliau. Beliau melihat ke sekitar dan setelah beliau menghitung jumlah orang yang hadir, beliau membagi rata bilangan kurma itu sehingga tiap-tiap orang menerima tujuh buah. Abu Huroiroh ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah makan sekenyang-kenyangnya, walaupun sekedar roti jawawut (Al-Bukhori).
Sekali peristiwa, ketika beliau melalui jalan tampak kepada beliau beberapa orang berkumpul mengelilingi panggang anak kambing dan siap untuk menikmati jamuan. Ketika mereka melihat Rasulullah saw mereka mengundang beliau ikut serta, tetapi beliau menolak. Alasannya bukan karena beliau tidak suka daging panggang, tetapi disebabkan oleh kenyataan bahwa beliau tidak menyetujui orang mengadakan perjamuan di tempat terbuka dan terlihat oleh orang miskin yang tak cukup mempunyai makanan.
Tiap-tiap segi kehidupan Rasulullah saw nampak jelas diliputi dan diwarnai oleh cinta dan bakti kepada Allah. Walaupun pertanggung-jawaban yang sangat berat terletak di atas bahu beliau, bagian terbesar dari waktu, siang dan malam dipergunakan untuk beribadah dan berdzikir kepada Allah. Beliau biasa bangkit meninggalkan tempat tidur tengah malam dan larut dalam beribadah kepada Allah sampai saat tiba untuk pergi ke masjid hendak sembahyang subuh. Kadang-kadang beliau begitu lama berdiri dalam sembahyang tahajjud sehingga kaki beliau menjadi bengkak-bengkak, dan mereka yang menyaksikan beliau dalam keadaan demikian sangat terharu. Sekali peristiwa Aisyah ra berkata kepada beliau “Allah telah memberi kehormatan kepada engkau dengan cinta dan kedekatan-Nya. Mengapa engkau membebani diri sendiri dengan menanggung begitu banyak kesusahan dan kesukaran?” Beliau menjawab “Jika Allah, atas kasih sayang-Nya, mengaruniai cinta dan kedekatan-Nya kepadaku, bukankah telah menjadi kewajiban pada giliranku senantiasa menyampaikan terima kasih kepada Dia? Bersyukurlah hendaknya sebanyak bertambahnya karunia yang diterima (Kitabul-Kusuf)
Allah telah memberikan mata untuk melihat; maka bukan ibadah tetapi aniaya kalau mata dibiarkan pejam atau dibuang. Bukan penggunaan kemampuan melihat secara tepat yang dapat dipandang dosa, melainkan penyalahgunaan daya itulah yang menjadi dosa…
Siti Aisyah meriwayatkan “Bilamana Rasulullah saw dihadapkan kepada pilihan antara dua cara berbuat, beliau senantiasa memilih jalan yang termudah, asalkan bebas dari segala kecurigaan bahwa itu salah atau dosa. Kalau arah perbuatan itu membuka kemungkinan timbulnya kecurigaan serupa itu, maka Rasulullah saw itulah orangnya, dari antara seluruh umat manusia yang paling menjauhinya (Muslim, kitabul-Fadhoil)
Beliau sangat baik dan adil terhadap istri-istri sendiri. Jika, pada suatu saat salah seorang di antara mereka tidak dapat membawa diri dengan hormat yang layak terhadap beliau, beliau hanya tersenyum dan hal itu dilupakan beliau. Pada suatu hari beliau bersabda kepada Siti Aisyah ra, Aisyah jika engkau sedang marah kepadaku, aku senantiasa dapat mengetahuinya” Aisyah ra bertanya “Bagaimana?” Beliau menjawab “Aku perhatikan jika engkau senang kepadaku dan dalam percakapan kau menyebut nama Allah, ‘Kau sebut Dia sebagai Tuhan Muhammad. Tetapi jika engkau tidak senang kepadaku, ‘Kau sebut Dia sebagai Tuhan Ibrahim” Mendengar keterangan itu Aisyah tertawa dan mengatakan bahwa beliau benar”
Beliau senantiasa sangat sabar dalam kesukaran dan kesusahan., Dalam keadaan susah, beliau tak pernah putus asa dan beliau tak pernah dikuasai oleh suatu keinginan pribadi… Sekali peristiwa beliau menjumpai seorang wanita yang baru ditinggal mati oleh anaknya, dan melonglong dekat kuburan anaknya. Beliau menasehatkan agar bersabar dan menerima taqdir Tuhan dengan rela dan menyerahkan diri. Wanita itu tidak mengetahui bahwa ia ditegur oleh Rasulullah saw dan menjawab “Andaikan engkau pernah mengalami sedih ditinggal mati oleh anak seperti yang kualami, engkau akan mengetahui betapa sukar untuk bersabar di bawah himpitan penderitaan serupa itu.” Rasulullah saw menjawab “Aku telah kehilangan bukan hanya seorang tetapi tujuh anak”. Dan beliau terus berlalu.
Beliau senantiasa dapat menguasai diri. Bahkan ketika beliau sudah menjadi orang paling berkuasa sekalipun selalu mendengarkan dengan sabar kata tiap-tiap orang, dan jika seseorang memperlakukan beliau dengan tidak s sopan, beliau tetap melayaninya dan tidak pernah mencoba mengadakan pembalasan.
Rasulullah saw mandiri dalam menerapkan keadilan dan perlakuan. Sekali peristiwa suatu perkara dihadapkan kepada beliau tatkala seorang bangsawati terbukti telah melakukan pencurian. Hal itu menggemparkan, karena jika hukuman yang berlaku dikenakan terhadap wanita muda usia itu, martabat suatu keluarga sangat terhormat akan jatuh dan terhina. Banyak yang ingin mendesak Rasulullah saw demi kepentingan orang yang berdosa itu, tetapi tidak mempunyai keberanian. Maka Usama diserahi tugas melaksanakan itu. Usama menghadap Rasulullah saw, tetapi serentak beliau mengerti maksud tugasnya itu, beliau sangat marah dan bersabda, “Kamu sebaiknya menolak. Bangsa-bangsa telah celaka karena mengistimewakan orang-orang kelas tinggi tetapi berlaku kejam terhadap rakyat jelata. Islam tidak mengidzinkan dan akupun sekali-kali tidak akan mengizinkan. Sungguh, jika Fathimah anak perempuanku sendiri melakukan kejahatan, aku tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman yang adil “ (Al-Bukhori, Kitabul-Hudud)
Rasulullah saw senantiasa prihatin memikirkan untuk memperbaiki keadaan golongan yang miskin dan mengangkat taraf hidup mereka di tengah-tengah masyarakat. Seorang wanita muslimah biasa membersihkan masjid Nabi di Madinah. Rasulullah saw tidak melihatnya lagi beberapa hari dan beliau menanyakan ihwalnya. Disampaikan kepada beliau bahwa ia sudah meninggal. Beliau bersabda, “Mengapa aku tidak diberi tahu kalau ia meninggal? Aku pasti ikut dalam sembahyang janazahnya” dan menambahkan. Barangkali kalian tidak memandangnya cukup penting karena ia miskin. Anggapan itu salah. Bawalah aku ke kuburnya.” Kemudian beliau pergi ke sana dan mendoa untuk dia (Al-Bukhori, Kitabus-Salat)
Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan jika seorang miskin menghadap Rasulullah saw dan mengajukan permintaan, beliau biasa bersabda kepada orang yang ada disekitar beliau, “Kemudian juga hendaknya memenuhi permintaannya itu sehingga mendapat pahala sebagai orang yang berperan serta dalam menggalakkan perbuatan baik’ (Al-Bukhori dan Muslim), dengan tujuan membangkitkan rasa cenderung untuk menolong si miskin di satu pihak dalam hati para sahabat dan dipihak lain menimbulkan kesadaran dalam hati kaum fakir-miskin adanya cinta-kasih saudara-saudara mereka yang kaya.
Akhlak Rasullullah saw Muhammad bin Abdullah
Ketika Islam berangsur-angsur diterima secara umum oleh bagian terbesar bangsa Arab, Rasulullah saw sering menerima barang dan uang berlimpah-limpah, beliau segera membagi-bagikan hadiah itu di antara mereka yang sangat membutuhkan. Sekali peristiwa anak beliau, Fathimah datang mendapatkan beliau sambil memperlihatkan tapak tangannya yang tebal dan keras akibat pekerjaan menepung gandum dengan batu, memohon agar diberi seorang budak untuk meringankan pekerjaannya. Rasulullah saw menjawab, “Aku akan menceriterakan kepadamu sesuatu yang nanti akan terbukti jauh lebih berharga daripada seorang budak. Jika engkau akan tidur pada malam hari, engkau hendaknya membaca SubchanAllah 33 kali, Al-chamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 34 kali. Hal itu akan jauh lebih banyak menolongmu daripada memelihara seorang budak” (Al-Bukhori).
Beliau senantiasa menganjurkan kepada mereka yang mempunyai budak-budak supaya memperlakukan mereka dengan baik serta kasih sayang. Beliau menetapkan bahwa jika si pemilik memukul budaknya atau memaki-makinya, maka satu-satunya perbaikan yang dapat dilakukannya ialah memerdekakannya (Muslim, Kitabul-Iman).
Rasulullah saw sangat berhasrat memperbaiki keadaan wanita di tengah-tengah masyarakat, menjamin mereka mendapat kedudukan terhormat dan perlakuan wajar lagi pantas. Islam adalah agama pertama yang memberikan hak waris kepada wanita…
Jika dalam satu perjalanan beliau ada wanita-wanita yang ikut serta, beliau senantiasa memberi petunjuk supaya kafilah bergerak lambat dan berhenti-berhenti secara bertahap. Pada suatu kesempatan serupa itu ketika orang-orang berjalan cepat, beliau bersabda “Perhatikan kaca! Perhatikan kaca!” dengan maksud mengatakan bahwa ada wanita-wanita dalam rombongan dan bahwa jika onta-onta dan kuda-kuda berlari cepat, mereka itu akan menderita dari bantingan-bantingan binatang-binatang itu (Al-Bukhori, Kitab Al-Adab)
Beliau menetapkan bahwa orang tidak boleh membicarakan keburukan seseorang yang telah meninggal, melainkan hendaknya menekankan kepada kebaikan apa saja yang dimiliki almarhum, sebab tidak ada faedahnya menyebut-nyebut kelemahan atau kejahatan orang yang sudah meninggal. Tetapi dengan mengemukakan kebaikan-kebaikan almarhum orang akan cenderung mendoakan (Al-Bukhori).
Perlakuan Rasulullah saw terhadap tetangga dengan ramah dan penuh perhatian; beliau sangat menekankan agar orang berbakti dan mengkhidmati orang tua serta memperlakukan mereka dengan baik dan kasih-sayang; beliau selamanya memilih pergaulan dengan orang-orang baik dan jika melihat suatu kelemahan pada salah seorang dari para sahabat, beliau menegurnya dengan ramah secara berempat mata; Rasulullah saw sangat berhati-hati membawa diri agar tidak timbul kemungkinan adanya salah faham; Beliau tidak pernah mengemukakan kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan orang lain dan menasehati orang-orang jangan mengumumkan kesalahan-kesalahan sendiri; Kesusahan, penderitaan atau kemalangan di saat menjelang wafat, beliau pikul dengan penuh kesabaran sampai-sampai Fathimah ra tidak tahan melihat ayahnya dalam keadaan demikian, namun beliau bersabda kepadanya: “Bersabarlah, ayahmu tidak akan menderita lagi sesudah hari ini”;
Rasulullah saw menekankan agar para sahabat bekerja sama satu dengan lainnya. Ketika seseorang mengadukan saudaranya yang bermalas-malasan, beliau bersabda kepadanya: “Tuhan telah mencukupi kebutuhanmu berkat adanya saudaramu, dan karena itu menjadi kewajibanmu mencukupi kebutuhannya dan membiarkan dia bebas mengkhidmati agama” (Turmudzi).
Rasulullah saw dalam jual-beli secara terus terang dan sangat mendambakan orang-orang muslim agar jangan melakukan kelicikan dalam transaksi atau jual-beli. Beliau senantiasa optimis menghadapi masa depan. Beliau sangat memusuhi sikap pesimis atau keputusasaan, Beliau bersabda: “Siapa yang menyebarkan rasa pesimis di kalangan masyarakat, ia bertanggung jawab atas kemunduran bangsa; sebab pikiran-pikiran pesimis mempunyai kecenderungan mengecutkan hati dan menghentikan laju kemajuan
Rasulullah saw memperingatkan para sahabat agar memperlakukan hewan-hewan dengan baik dan mengecam bersikap kejam terhadap hewan. Beliau sering menceriterakan tentang wanita Yahudi yang dihukum Allah swt lantaran membiarkan kucingnya mati kelaparan.
Rasulullah saw bukan saja menekankan pada kebaikan toleransi dalam urusan agama, tetapi memberikan contoh-contoh yang sangat tinggi dalam urusan ini. Suatu delegasi suku Kristen Najron yang telah berdialog selama beberapa jam, meminta idzin untuk meninggalkan masjid untuk mengadakan kebaktian di tempat yang tenang, Rasulullah saw bersabda: “Mereka tidak perlu meninggalkan masjid yang memang merupakan tempat khusus untuk kebaktian kepada Tuhan dan mereka dapat melakukan ibadah mereka di situ (Az-Zurqani)
Keberanian Rasulullah saw luar biasa, ketika terjadi isu bahwa pasukan Romawi akan mengadakan pendudukan di Madinah dan ketika ada suara gaduh di tengah malam, beliau mengadakan penelitian sendiri dengan menaiki kudanya. Beliau sangat lunak terhadap orang yang kurang sopan terhadap beliau.
Rasulullah saw sangat menaruh penting ihwal asas menyempurnakan perjanjian. Sekali peristiwa seorang duta datang kepada beliau dengan tugas istimewa dan sesudah ia tinggal beberapa hari bersama beliau, ia yakin akan kebenaran Islam dan mohon diperbolehkan bai’at masuk Islam. Rasulullah saw menjawab bahwa perbuatannya itu tidak tepat karena ia datang sebagai duta dan telah menjadi kewajibannya untuk pulang ke pusat Pemerintahannya tanpa mengadakan hubungan baru, jika sesudah pulang ia masih yakin akan kebenaran Islam, ia dapat kembali lagi sebagai orang bebas dan masuk Islam
Beliau sangat menghargai mereka yang membaktikan waktu dan harta bendanya untuk menghidmati umat manusia. Suku Arab , Banu Tho‘i mulai mengadakan permusuhan terhadap Rasulullah saw dan kekuatan mereka dapat dikalahkan dan beberapa orang ditawan dalam sebuah peperangan. Seorang dari tawanan itu adalah seorang anak perempuan Hatim, seorang yang kebaikan dan kemurahannya telah menjadi buah bibir bangsa Arab. Ketika anak Hatim menerangkan kepada Rasulullah saw mengenai silsilah kekeluargaannya, beliau memperlakukan wanita itu dengan penghormatan yang besar dan sebagai hasil dari perantaraannya beliau membatalkan semua hukuman yang tadinya akan dijatuhkan atas wanita itu sebagai tindak balasan terhadap serangan mereka [28].
Sedemikian agung dan indahnya Akhlak Muhammad Rasulullah saw, sebagai hamba teladan umat manusia yang hidup sezaman dengan beliau maupun umat manusia yang hidup sesudahnya hingga hari Qiamat, karena itu hanya ada satu syahadat pada beliau saja yang disyari’atkan dalam agama dan wajib diikrarkan oleh setiap orang yang masuk ke dalam agama Islam, sebagai tekad untuk mengawali dalam mengikuti dan meneladani kehidupan beliau. Adapun jaminan bagi orang yang telah mengikrarkan syahadat itu adalah sorga, sebagaimana sabda Rasulullah saw berikut:
Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah Yang Esa yang tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya, maka tiada seorang pun yang bertemu dengan kedua kalimah syahadat itu pada Hari Qiamat, kecuali ia dimasukkan kedalam sorga karena apa yang ada di dalamnya. 
RASULULLAH SAW DI TENGAH PARA SAHABAT
Kata Hassan, "Maka aku tanyakan tentang keadaannya apabila Baginda sedang beradadi tengah-tengah para sahabatnya. Jawabnya, "Rasulullah SAW sentiasa periang (gembira), budi pekertinya baik, sentiasa ramah-tamah, tidak kasar mahupun bengis terhadap seesorang,tidak suka berteriak-teriak, tidak suka perbuatan yang keji, tidak suka mencaci, dan tidak suka bergurau (olok-olokan), selalu melupakan apa yang tidak disukainya, dan tidak pernah menolak permintaan seseorang yang meminta. Baginda meninggalkan tiga macam perbuatan : Baginda tidak mahu mencela seseorang atau menjelekkannya, dan tidak pernah mencari-cari kesalahan seseorang, dan tidak akan berbicara kecuali yang baik saja (yang berfaedah). 
Namun apabila Baginda sedang berbicara maka pembicaraannya itu akan membuat orangyang ada di sisinya menjadi tunduk, seolah-olah di atas kepala mereka itu ada burung yanghinggap. Apabila Baginda sedang berbicara maka yang lain diam mendengarkan, namunapabila diam maka yang lain berbicara, tidak ada yang berani di majlisnya untuk merosakkan(memutuskan) pembicaraan Baginda. Baginda sentiasa ikut tersenyum apabila sahabatnyatersenyum (tertawa), dan ikut juga takjub (hairan) apabila mereka itu merasa takjub padasesuatu, dan Baginda sentiasa bersabar apabila menghadapi seorang baru (asing) yang ataudalam permintaannya sebagaimana sering terjadi. Baginda bersabda, "Apabila kamu melihatada orang yang berhajat maka tolonglah orang itu, dan Baginda tidak mahu menerima pujianorang lain kecuali dengan sepantasnya, dan Baginda tidak pernah memotong pembicaraanorang lain sampai orang itu sendiri yang berhenti dan berdiri meninggalkannya." 
       
        E. URGENSI AKHLAK
 “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang baik akhlaqnya. Islam itu adalah baik akhlaq. Yang paling baik Islam kamu adalah yang paling baik akhlaqnya, jika mereka mengerti.(al hadits).
               Persoalan akhlaq adalah persoalan besar bagi umat Islam, persoalan yang menentukan eksistensi seorang Muslim sebagai makhluq Allah, sebagai pribadi di dalam keluarganya, sebagai individu di dalam masyarakatnya, sebagai muharrik dalam sebuah gerakan Islam, sebagai Muslim di tengah umat, sebagai bagian dari umat di tengah interkasinya dengan bangsa dan peradaban lain di Dunia. Rasulullah SAW. Bersabda :
“sesungguhnya yang paling unggul diantara kamu adalah orang yang paling baik akhlaknya.”(H.R. Bukhari)16
               Akhlaq adalah persoalan jati diri, persoalan karakter inheren yang tak bisa lepas kemana seseorang manusia pergi. Sekaligus akhlaq merupakan lambang kualitas seorang manusia, masyarakat dan umat.  Karena akhlaq adalah seperangkat tindakan atau gaya hidup (namth) yang terpuji, yang merupakan refleksi nilai-nilai Islam yang diyakini dengan motivasi semata-mata mencari keridhaan Allah SWT. 
[9]Akhlaq adalah nilai-nilai Islam yang membumi, yang terjelma dalam bentuk konkret manusia, umat atau peradaban.  Dia merupakan nilai terpuji, karena nilai-nilai islami adalah nilai fitrah manusiawi, yang bersih dan lurus.  Karenanya sebaik-baik manusia adalah manusia yang sesuai dengan fitrahnya, manusia yang baik akhlaqnya.
               Dalam bingkai potret peradaban umat di hari ini, akhlaq islami menjadi penting, bahkan merupakan sebuah urgensi yang tak bisa ditawar-tawar lagi.  Karena potret buram dan retak peradaban umat di hari ini tak lepas dari pengaruh lunturnya akhlaq di kalangan kaum Muslimin. Dan lunturnya akhlaq ini pula yang telah menggeser timbangan umat dari posisi khairu ummah menjadi "buih", yang dengan mudahnya dicerai-beraikan musuh-musuh Allah.  Karenanya upaya peningkatan akhlaq islami mestilah disasarkan pada pribadi Muslim, dai dan muharrik, keluarga, masyarakat, amal islami dan umat secara keseluruhan. Dalam hadist Rasulullah bersabda :
“yang disebut bagus adalah bagus akhlaknya” (H.R. Muslim)17
               Dalam skala pribadi perbaikan akhlaq akan membuat seorang Muslim memiliki ketenangan dan kekuatan jiwa, dihormati dan diteladani, dapat menjalankan kewajiban dengan baik, dapat memberikan sumbangan bagi aktifitas kemaslahatan masyarakat, kemudian akan berkembang ruh mahabah dan ukhuwah antar pribadi Muslim.
               Dalam skala masyarakat, maka pribadi-pribadi Muslim yang berakhlaqul kharimah dapat memberikan ketertiban dan kesejahteraan umum, masyarakat menjadi teratur dan bersih.  Dalam skala amal islami, dengan menguatnya akhlaq para aktifis harakah, pertumbuhan dan kekuatan dapat diciptakan, yang pada gilirannya mampu meningkatkan manuver-manuver da'wah serta memberikan daya tahan (imunitas) terhadap serangan futur (kemandegan). 
[10]Peningkatan akhlaq para aktifis gerakan Islam akan memberikan pertumbuhan vertikal berupa peningkatan tanggung-jawab (mas'uliyah) dan kepemimpinan, memunculkan afkar-afkar (anggota) yang berkualitas, yang selanjutnya dapat mengadakan pertumbuhan horizontal berupa perluasan medan da'wah. Kemudian dari hub (rasa cinta) dan ikha' (rasa persaudaraan) akan memunculkan kekuatan wihdah (persatuan).

               Dalam skala umat, maka akhlaq islami akan menyediakan kekuatan dan peningkatan produktifitas kerja, keberkatan dan ridha Allah SWT, dihormati, dikagumi, diteladani dan disegani bangsa dan peradaban lain.  Dan peningkatan akhlaq islami ini secara langsung akan memajukan peradaban kaum Muslimin.
               Pengaruh akhlaq yang demikian tinggi baik bagi pribadi Muslim, masyarakat, bahkan umat bukanlah tanpa alasan.  Karena karakter inheren akhlaq itu sendiri yang merupakan penyebabnya.  Karena akhlaq islami adalah suatu keyakinan terhadap nilai-nilai Rabbani yang dijawantahkan dalam kehidupan nyata untuk hanya mencari rasa suka, ridha Allah.  Akhlaq Islami merupakan aktifitas lahir sekaligus bathin. 
               Aktifitas lahir nampak dalam budi pekerti (suluk) terpuji dan aktifitas bathin nampak dalam bentuk keteguhan dan kekuatan jiwa, menumbuhkan optimisme dan tekad yang kuat.  Belumlah sampai pada tingkat akhlaq, kalau penampakan dzahir suatu perbuatan, yang nampaknya terpuji, kalau tidak diiringi dengan ketulusan niat bahwa perbuatan itu dalam rangka mencari rasa suka Allah.  Sikap dzahir yang nampaknya terpuji namun dengan diiringi hati yang bertolak-belakang adalah sikap kaum munafiq, tanpa diiringi keikhlasan adalah sikap kaum musyrik.  Seorang Muslim yang berakhlaqul kharimah tidak dapat bersikap pura-pura dalam tingkah laku harian untuk sekedar mendapat penghargaan secara sosial.
               Tetapi segala tindak tanduknya keluar dari keyakinan, sikap hidup yang bersumber untuk mencari ridha Allah.  Keyakinan bathiniah ini sendiri mengiringi dan mewarnai (sibghah) aktifitas dzahir.  Karenanya aktifitas dzahir baik kaum Muslimin bukan hanya bermakna sosial dan profan tetapi juga sakral, bukan saja dalam rangka berlaku baik terhadap manusia, tetapi juga dalam rangka mengharapkan pujian Allah. Pujian Allah inilah yang mestinya lebih mendominasi dan didamba Muslim yang berakhlaqul kharimah.


Daftar Pustaka
Basyir, Ahmad Azhar; 2002, Beragama Secara Dewasa (Akidah Islam), UII Press, Yogyakarta.
Latif, Zaky Mubarok; dkk, 2012, Akidah Islam, UII press, Jogjakarta.
Soerojo; Alim, Sahirul ; dkk., 2012, Menuju kemantapan Tauhid dengan Ibadah dan Akhlaq Karimah, UII Press, Jogjakarta.
Tono, sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, UII press, Yogyakarta.


[1] Latif, zaki mubarok, dkk, 2012, Akidah Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 80
2 Tono, sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlaq dalam Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 82

3 Tono, sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlaq dalam Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 82
4 Tono, Sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 83

5 Tono, Sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 85
6  Tono, Sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 86

7  Tono, Sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 87
8  Tono, Sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 88
9  Tono, Sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 89-90
10  Tono, Sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 89-90

11 Soerojo,dkk, 2012, Menuju Kemantapan Tauhid dengan Ibadah dan Akhlaq Karimah,UII press,Yogyakarta. Hal 87
12 Soerojo,dkk, 2012, Menuju Kemantapan Tauhid dengan Ibadah dan Akhlaq Karimah,UII press,Yogyakarta. Hal 87
13 Soerojo,dkk, 2012, Menuju Kemantapan Tauhid dengan Ibadah dan Akhlaq Karimah,UII press,Yogyakarta. Hal 87
14  Basyir, Ahma Azhar, 2002, Beragama Secara Dewasa, UII press, Yogyakarta. Hal 70
15 Basyir, Ahma Azhar, 2002, Beragama Secara Dewasa, UII press, Yogyakarta. Hal 68-69

16 Tono, Sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 95
17 Tono, Sidik, dkk, 2009, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, UII press, Yogyakarta. Hal 95

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penimbangan dan pembuatan larutan standar

Tujuan percobaan : 1) Teknik menimbang dengan neraca analitik 2) Membuat larutan standar HCl 0,1 N 3) Standarisasi larutan HCl dengan Boraks Dasar teori * Menimbang dengan neraca analitik Neraca analitik digunakan untuk membandingkan dua gaya yang praktis dapat dikatakan sejajar. Dua gaya yang sejajar tidak dapat diprbandingkan langsung, tetapi harus melalui perbandingan momen gaya yaitu dengan menghubungkan kedua gaya itu melalui dua lengan pengungkit (pengumpil) dengan titik pusat persekutuan. Pada jarak yang sama dari titik kedua ujung pengumpil terdapat titik kerja gaya berat yang bekarja terhadap kedua massa yang harus di perbandingkan. Sebuah massa yang tidak diketahui selalu dipersamakan dengan sejumlah anak timbangan tertentu. Kesamaan yang sempurna tidak pernah tercapai. Selalu terdapat sedikit selisih massa yang dapat dihitung dari sudut miring pengumpil. Neraca sama lengan merupakan instrumen amat peka, dan jarum penunjuk akan berayun cukup lama sebelum berhenti. ...

Sarjana Muda

Tanggal 22 oktober 2016 Senyum bahagia merengah di setiap bibir yang menghadirinya, yang punya acara maupun yang datang untuk mereamaikan acara. Teriakan demi teriakan di sampaikan oleh para pengunjung yang turut bahagia akan pencapaian kami, ya pencapaian kami yang telah menutup buku dengan menyematkan gelar di belakang nama. Iya, hari ini kami wisuda, hari bahagia kami ini adalah pintu gerbang kehidupan baru kami menyandang gelar sarjana muda. Kami bahagia dan mendeklarasikan diri kalau kami sudah bebas dari tugas tugas kutu buku, tugas tugas yang menghatui kami tiap malam, pagi, siang dan sore. Apalagi kalau mengingat perjuangan menyelesaiakan skripsweet membuat kami yang saat ini merasa benar benar bebas. Tak jauh pemikiran kami dari kata bebas, yang terus membuat kami bahagia, membuat kami terlena. Lambat laun kami mulai dihadapkan dengan kegelisahan karena belum lagi bertemu dengan kesibukan lain, yang biasa kami sibuk dengan tugas, kini kami hanya sibuk dengan sepi dan...